Thursday, May 12, 2005

Cita-cita, Harapan dan Tuhan

Keren kan judulnya, he...he... Mudah-mudahan aja tulisan ini bisa menyampaikan rasa yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang. Beberapa hari yang lalu, aku lupa tepatnya hari apa, ada seorang teman yang datang ke rumah. Dia adalah temanku waktu Pelayaran Kebangsaan 4. Sebenarnya pertemananku waktu di kapal biasa aja, mungkin cuma dua kali kami obrol yang agak lama dibandingkan dengan say hello.

Waktu itu adalah kali ke dua dia datang ke rumah. Tapi anehnya kedatangannya kali ini membawa aura (atau apa lah namanya) yang aneh. Mukanya terlihat kusut dan seperti jenuh menjalani rutinitas. Sebutlah namanya si A (bukan nama sebenarnya, he...he...istilahnya kayak tayangan kriminal buser, ato sergap ya :D). Awalnya pembicaraan kami biasa aja dan tergolong ringan. Tapi tiba-tiba sebuah pernyataan yang penuh tanda tanya besar meluncur dari mulutnya "Sebenarnya aku dulu selalu saja melaksanakan apapun perintah Tuhan,mulai dari sholat 5 waktu, sholat sunah, puasa senin-kamis, dll, tapi knapa jawaban Tuhan atas tindakanku itu adalah mengambil satu-satunya orang paling berarti dalam hidupku. Is that fair?"

Huh....kata-kata itu bagaikan petir di siang hari bagiku.

Si A adalah penari. Dia punya cita-cita (aku lebih senang menyebutnya "mimpi") besar yang bakal dia hadiahkan kepada ibunda tercinta, sekaligus dia mau membuktikan bahwa jalan hidup yang ditentang oleh ibunya dapat berbuah hasil yang sangat membanggakan. Tapi belum sempat dia mewujudkannya,....... Si A akhirnya memutuskan untuk tidak pernah bermimpi, dan berharap lagi. "Hidup biarkan berjalan seperti mau Tuhan tanpa kita harus terlibat di dalamnya", begitu katanya.

Aku tergelitik untuk menjawab "Knapa harus berhenti bermimpi?, apakah keadaan tanpa mimpi dalam hidup ini lebih menyenangkan dibandingkan terus bermimpi dan mengejarnya. Percayalah Tuhan gak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hambanya" Kemudian aku menceritakan mimpiku dan berharap bahwa dia merasakan indahnya bermimpi.

"Ha...ha.... Yani....Yani.....hal-hal yang sekarang kamu lakukan telah aku lakukan sejak 11 tahun yang lalu. Dan kamu tau apa yang aku dapatkan sekarang, KEGAGALAN.Kata itu sudah cukup membuatku terpuruk seperti sekarang ini"

Wow......Gak tau deh mau ngomong apa. Aku sempat bengong untuk beberapa saat. Aku merasa belum pantas untuk menyelesaikan masalahnya karena aku juga punya ketakutan besar akan kata-kata itu. Ingin rasanya bilang ke dia bahwa aku bukan orang yang tepat untuk diajak berbicara tentang hal itu.

" Sekarang sholat ataupun tidak rasanya biasa aja, gak ada bedanya" lanjut si A

Naudzubillah min dzali'. Seluruh tubuhku rasanya dipenuhi oleh energi takut yang dashyat. Bukan apa-apa si, aku takut jika suatu saat di otakku ini dihinggapi pikiran-pikiran yang sama. Ya Allah jangan biarkan itu terjadi :'( Dalam beberapa minggu kemarin hidupku juga memang sedang statis, gak gerak karena takut berhadapan lagi dengan kata "Gagal". Tapi tidak sampai menyalahkan Tuhan.

Memang terlihat tak pantas jika aku memberikan kata-kata yang bisa membuat si A bangkit lagi. Tapi entah kenapa mulut ini tiba-tiba terbuka dan berkata.
"Apa kamu sayang sama ibumu ?"
Si A mengangguk
"Bullshit, kalo kamu bilang bahwa kamu sayang sama ibumu. Saat ini apa kamu tau bahwa ibumu telah damai di alam sana atau sedang merintih kesakitan mendapatkan siksaan kubur? Kalo kamu sayang pastinya kamu akan menolong beliau dan tidak menghancurkan hidupmu."
"Bagaimana caranya aku menolong?" sahut Si A dengan muka merah padam
" Dengan mendoakannya. Dengan sholat 5 waktu, maka kamu akan mendoakan ibumu 5 kali dalam sehari dan itu berarti jika beliau sedang tidak damai di sana beliau akan diberikan waktu istirahat dalam 5 kali pula."

Kemudian nadaku makin meninggi."Klo kamu emang mau berdoa, yang harus kamu pertanyakan lagi bagaimana doa itu bisa diijabah oleh Allah? Jawabannya ibumu harus punya anak yang sholeh. Mungkin Allah tidak memberikan kesempatanmu berbakti kepada beliau di dunia, karena hal itu pasti ada batasnya. Sedang doa, dan menjadi anak yang saleh adalah bakti yang tanpa batas."

Ternyata mulut ini belum berhenti juga"Berharaplah hanya pada Allah, karena hanya Allah tempat kita memohon dan meminta pertolongan"

Mendengar perkataanku sendiri aku heran. Aku merasa bukan hanya si A yang terdidik oleh kata-kata itu, aku pun yang mengeluarkannya juga terdidik. Kurasa itu juga omen dari Allah untuk aku (kayak al chemist ya bahasanya ;) ) Kan segala hal yang baik pasti datangnya dari Allah.
Dua hari setelah hari itu, si A menelponku dia mengucapkan terima kasih, karena saat ini dia sudah tidak malu-malu lagi mendekatkan diri ke Allah. Senang rasanya bisa membantu orang, meskipun untuk membantu diriku sendiri aku kesulitan.
Menata hati untuk menyeimbangkan antara mimpi (cita-cita), harapan, kegagalan, kekecewaan, dan membuang keputus asaan, adalah hal yang sangat berat. Sampai hari inipun aku juga terus saja mencari-cari cara bagaimana untuk slalu istiqomah dalam berusaha mengejar mimpi dengan sekuat tenaga dan menerima apapun yang akan menjadi hasilnya baik keberhasilan menggapai mimpi tersebut atau bertemu dengan kata "gagal".
Ya Allah jangan pernah tinggalkan aku walau sedetik pun. Amin
Ps : Cerita ini tidak bermaksud menggurui siapa pun.Tapi hanya ingin berbagi rasanya ; )

1 Comments:

At 9:25 PM, Blogger Irwan Syahrir said...

Hidup itu memang senantiasa menyajikan penjelasan sekaligus misteri, kebahagiaan sekaligus duka cita, keyakinan sekaligus keraguan, dan berbagai pasangan paradoksal di sepanjang kelokan jalan yang kita tempuh. Itulah tanda-tanda (omen, "ayat") yang harus kita cerna sambil menjawab tuntutan untuk bertindak dalam menjalani hidup.

Satu hal yang pasti, manusia tidak boleh berhenti belajar dan terus memohon petunjuk Sang Maha Penguasa. Juga tidak kalah pentingnya adalah berdialog dengan diri sendiri. Cerita teman yang merasa gagal ini adalah sebuah cuplikan dari dialog panjang manusia yang dihadapkan pada kenyataan hidup. Semakin sering dialog ini terjadi, semakin menyadarkan bahwa ada banyak himpunan realitas yang berkecamuk di kepala manusia. Himpunan yang terdiri dari pelbagai asumsi dan keyakinan terhadap realitas. Asumsi dan keyakinan itu bahkan telah menjadi realitas sendiri bagi para pemiliknya.

Karena aku pun sedang berproses, maka tidak ada kata akhir yang bisa dinyatakan. Teruslah berpikir, berdialog dan tuliskan pikiran dan percakapan itu.

 

Post a Comment

<< Home